Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

GAPURA JAPPY PELLOKILA

SINISME  TERHADAP AGAMA KEHIDUPAN BERSAMA UMAT KRISTEN DAN MUSLIM MISI dan DIALOG PERAN UMAT BERAGAMA PROSPEK PERJUMPAMAAN KRISTEN DAN BUDAYA DASA TITAH FUNGSI PAK DI INDONESIA AGAMA DAN NEGARA GURU PAK GURU PAK SEBAI KONSELOR PERAN AGAMA [UMAT BERAGAMA] PADA BIDANG POLITIK KECERDASAN MANUSIA PEREMPUAN MENYATAKAN KEBENARAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK PEMAKAIAN NAMA ALLAH DI INDONESIA

 
 
 

  
   
  
SINISME TERHADAP AGAMA
OLEH
JAPPY PELLOKILA

 

Sinisme, berasal dari kata sinis [mengejek dan memandang rendah], merupakan pandangan atau pernyataan sikap [pemikiran, kata, dan tindakan] yang mengejek dan memandang rendah atau enteng terhadap sesuatu. Sinisme juga merupakan ketidakseimbangan pandangan; dalam arti hanya melihat sisi negatifnya saja, dan membuang hal-hal postif. Jadi, pandangan sinis terhadap agama, menunjukkan suatu konsep pikir, melalui ketidakseimbangan pandangan, yang merendahkan nilai-nilai keilahian yang ada pada agama dan keberagamaan.
         Sepanjang atau dalam sejarah peradaban umat manusia, muncul atau ditemukan banyak orang yang berpendapat tentang ketidakpentingnya agama [termasuk ajaran tentang adanya TUHAN dalam agama-agama]. Misalnya,
        Karl Marx, 1818 - 1883; menurut Marx, perkembangan dan modernisasi telah memilah dan memisahkan masyarakat menjadi berbagai strata sosial; antara lain masyarakat maju, kaya, sejahtera, serta sengsara dan menderita. Pemilahan dan pemisahan itu dilakukan oleh para orang kaya dan berpendidikan, yang awalnya dalam rangka perbaikan masyarakat. Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya, pemilahan dan pemisahan itu, menjadi pintu masuk tindakan sewenang-wenang dan penindasan terhadap kaum miskin serta papa; dengan demikian, mereka tetap sengsara dan menderita. Melihat realitas tersebut, menurut Marx, kesengsaraan dan penderitaan, menjadikan manusia selalu berkeluh kesah dan memohon atau berisi permohonan belas kasihan. Dan keadaan itulah, mereka melarikan diri dari realitas hidup dan kehidupan dengan menciptakan atau memunculkan agama [dalam arti tindakan-tindakan yang bersifat doa-doa, nyanyian, teks-teks yang berisi penghiburan, dan lain-lain]. Ketika manusia melakukan hal-hal tersebut, ia sejenak melupakan penderitaan dan kesengsaraanya. Tetapi, setelah itu, ia tetap pada keadaannya yaitu menderita dan sengsara. Jadi, agama adalah suatu bentuk permohonan dari makhluk yang penuh sengsara dan penderitaan. Agama merupakan roh yang tidak berjiwa; tidak mempunyai kekuatan apapun untuk merubah keadaan manusia.
       Bagi Marx, agama adalah opium atau candu dalam dan untuk masyarakat; [sebagaimana sifat candu menjadikan orang atau pemakainya lupa pada penderitaan dengan adanya realitas semu atau impian pada saat kecanduan; mengikat dan membuat ketergantungan, kemudian merusak kehidupan], maka agama hanya membuat manusia terikat pada sesuatu yang tidak realita; menjadikan mereka bermimpi; serta mempunyai harapan pada ketiadaan dan kehampaan; semuanya menghancurkan hidup dan kehidupan manusia. Karena itu, jika manusia atau masyarakat ingin memperoleh kebahagiaan, kesejahteraan, kesetaraan, kebersamaan, maka ia atau mereka harus menghancurkan agama.
       Ludwig Feurbach, tokoh atheis modern, 1804 - 1883; Menurutnya, ide tentang TUHAN pada hidup dan sejarah manusia merupakan suatu kekeliruan. Kodrat manusia ditentukan oleh akal budi, perasaan, dan kehendak; ketiga hal itu merupakan perkembangan alam. Menurut Feurbach, agama mengajarkan manusia memisahkan dirinya dari alam. Oleh sebab itu, untuk kembali pada jatidirinya sebagai makhluk alam, maka manusia harus membuang ide tentang TUHAN
       Friedrich Nietze, 1884 - 1900; Menurut Nietze, manusia percaya kepada atau adanya TUHAN karena dirinya [mereka] mempunyai perasaan tidak mampu; atau karena ketidakmampuan dan kekurangan [kemiskinan] maka manusia percaya adanya TUHAN. Agama muncul pada sejarah masa lalu umat manusia, ketika peradabannya masih terbelakang atau belum maju; pada sikon itu hampir semua umat manusia percaya adanya TUHAN. Tetapi, ketika ada kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan, yang menghantar manusia pada kebebasan intelektual, kemerdekaan berpendapat, serta mempunyai kemampuan; maka manusia harus melepaskan dirinya atau membuang keterikatannya dengan agama.
         Menurut Nietze, agama mengajarkan ide tentang TUHAN, padahal keberadaan-Nya tak nampak atau tidak ada; Ia adalah kehampaan, kosong. Karena itu, manusia harus mematikan ide adanya agama; sekaligus memancarkan kematian TUHAN dari dalam hidup dan kehidupannya, dan selanjutnya [manusia] harus membuang norma-norma moral yang diajarkan atau datang dari agama-agama
       Pandangan-pandangan sinis terhadap agama tersebut, memang merupakan produk masa lalu, pada perkembangan sejarah intelektual manusia, namun dampaknya masih terasa sampai kini. Ide-ide tentang kematian dan ketiadaan TUHAN; ketidakbergunaan agama-agama; dan penolakkan terhadap agama-agama terus menerus merambah masuk ke dalam pola pikir manusia masa kini.         Pengagungan terhadap hasil akal budi dan perkembangan iptek, seringkali menjadikan manusia ingin membuktikan segala sesuatu secara ilmiah. Dan ketika, ia atau mereka berhadapan dengan sesuatu yang hanya bersifat gejala-gejala [misalnya kehadiran TUHAN yang tak nampak, namun terasa gejala-gejala atau akibat kehadiran-Nya], yang tidak bisa dibuktikan secara konkrit, maka disamakan dengan ketiadaan bukti ilmiah. Karena tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, maka ia atau mereka menolak keberadaan agama dan TUHAN, walaupun identitas keagamaan masih melekat pada dirinya.
       Orang-orang seperti Marx, Feurbach, dan Nietze, dan masih banyak lagi yang lain, ketika mendapat tantangan [terutama dari tokoh-tokoh dan pemimpin agama] karena pendapat dan konsep-konsepnya, dengan gampang menjawab bahwa jika TUHAN itu ada, biarlah Ia yang menghukum. Dengan demikian, mereka tetap bebas menyampaikan ide-idenya. Ide-ide mereka tidak pernah mati dan lenyap. Dan kenyataannya, karena TUHAN penuh dengan kasih dan pengampunan, maka orang-orang yang menolak keberadaan-Nya, tidak pernah mengalami malapetaka ataupun dilenyapkan dari muka Bumi; mereka tetap eksis, walaupun tidak peduli dengan Agama maupun TUHAN. Dengan demikian, mereka telah meninggalkan atau mewariskan virus dan racun mematikan pada hidup dan kehidupan manusia selanjutnya. Setelah era atau masa mereka, banyak orang masih mempertahankan atau mengikuti konsep dan pemikiran sinisme tersebut.

           Pada masa kini, termasuk di Indonesia, tidak sedikit kaum muda, orang tua, mereka yang berpendidikan maupun tidak, walaupun tak secara terang-terangan, mengikuti pemikiran Marx, Feurbach, dan Nietze; tetapi mampu membangun konsep-konsep baru yang lebih dasyat tentang penolakkan terhadap agama-agama dan TUHAN. Dengan demikian, Marx, Feurbach, dan Nietze, walaupun telah lama meninggal, tetap melahirkan anak-anak dan murid-murid ideologis pada sepanjang sejarah umat manusia. Ajaran-ajaran mereka menjadi suatu pegangan ataupun ideologi alternatif, ketika agama-agama tidak bisa [siap] menjawab persoalan dan serta memberi jalan keluar dari pergumulan hidup dan kehidupan umat manusia.
          Hal tersebut, bisa muncul dari kaum agamawan maupun keberadaan manusia itu sendiri. Artinya, kaum agamawan bisa menjadikan umatnya menolak agama dan TUHAN, jika mereka menjadikan agama sebagai penghambat kemajuan serta kreativitas hidup dan kehidupan manusia.
          Manusia bisa menolak agama, karena sebab-akibat tertentu. Artinya, jika ia atau mereka terus menerus berada dalam sikon penderitaan, kemelaratan, putus asa, dan tanpa pertolongan oleh siapapun [termasuk dari umat yang taat beragama], maka melahirkan suatu sikap penolakan radikal terhadap agama-agama. Mungkin, pada awalnya hanya menolak manusia yang beragama, namun dalam perkembangan selanjutnya, menyebar menjadi anti agama dan TUHAN
 

Jappy M Pellokila, lahir 26 Agustus di Kupang - Timor, Nusa Tenggara Timur. Sekarang menikmati hidup dan kehidupan sebagai rakyat biasa di pelosok Jabodetabek


 

JAPPY SOFTWARE

[SILAHKAN DOWNLOAD GRATIS]

IEARN FORUM

VICKY WIBISONO

TRI PRASETYO MARTHIN

KONTAK JODOH - KUMPULAN COWOK-CEWEK SINGLE

MILIS

PENDIDIKAN AGAMA

BEA SISWA

BOLELEBO

FLOBAMOR

 EBOOK

KATA-KATA BIJAK

HATI-HATI

AGROMANIA

OTOMOTIF

RELASI

FORUM PEMBACA KOMPAS

FORUM PENDIDIKAN

WEB LINK'S

CHRISTIAN ART AND IMAGES

STUDI AGAMA KRISTEN

STUDI AGAMA ISLAM

KERETA API INDONESIA

 

MENGERJAKAN SEMUA JENIS PEKERJAAN KONTRUKSI

[TERMASUK KONTRAKTOR, PEMBORONG, PENGADAAN MATERIAL UNTUK PEMBANGUNAN PERUMAHAN, JEMBATAN, DERMAGA, GEDUNG, JALAN, DLL]

di  NTT

FAEDAH AGAMA
Oleh Jappy Pellokila
 

         Walaupun adanya sinisme terhadap agama, kemudian diikuti dengan anti agama dan TUHAN, namun masih ada [banyak] manusia beragama. Suatu realitas sepanjang sejarah hidup dan kehidupan manusia masa lalu, kini, dan akan datang; bahwa berbagai ideologi, aliran filsafat, ajaran-ajaran, dan lain sebagainya, muncul dan hilang, akan tetapi agama tetap ada; agama tidak pernah mati dan lenyap. Dalam arti, bentuk-bentuk penyembahan manusia kepada Ilahi tetap ada dan terus menerus mengalami perkembangan. Organisasi keagamaan bisa bubar; umat beragama bisa habis, namun agama, walaupun tidak abadi, tetap ada. Karena agama tetap atau tidak pernah lenyap, maka ajaran tentang TUHAN yang diajarkan dalam dan oleh Agama-agama pun tetap ada. Seandainya tidak ada agama, namun TUHAN tetap dan terus menerus ada, karena Ia tidak tergantung pada ada atau tidaknya agama.

           Agama muncul karena adanya manusia; atau karena adanya manusia maka maka tercipta agama. Agama untuk manusia? atau manusia untuk agama? atau haruskah manusia beragama? Keduanya [manusia dan agama] ternyata tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Agama hanya bisa terlihat sebagai agama [dalam arti, berdampak pada perubahan manusia secara utuh] jika ada manusia yang menjadi penganut atau umatnya. Agama tak berarti apa-apa jika tidak ada umatnya. Agama akan menjadi sekedar kumpulan orang-orang yang menjalankan suatu sistem ajaran jika tidak dijalankan oleh penganutnya. Agama akan mempunyai faedah jika para penganutnya menjalankan serta mengaplikasikan ajarannya dengan baik dan benar dalam hidup dan kehidupan setiap hari.
 
 
ALASAN-ALASAN MANUSIA BERAGAMA
    Lalu mengapa manusia beragama? Jawaban sederhananya adalah karena manusia mempunyai naluri religius untuk menyembah sesuatu di luar dirinya. Namun, jika ditelaah lebih mendalam, maka alasan-alasan manusia beragama ternyata tidak sederhana. Ada banyak faktor yang menjadikan manusia beragama; sekaligus mengembangkan pola-pola keberagamaannya. Pada umumnya, manusia beragama, di dalamnya ada upaya sungguh-sungguh untuk menyembah dan percaya kepada Ilahi, karena pelbagai alasan. Misalnya,
  1. Keterbatasan dan ketidakmampuan psikologis. Manusia mempunyai pelbagai cara untuk mengembangkan hidup dan kehidupannya sehingga, secara fisik, dapat bertahan serta tidak musnah. Namun, dibalik itu, pada dirinya masih tersimpan banyak kekurangan serta ketidakmampuan dan keterbatasan. Karena itu, manusia ingin memperoleh kekuatan baru dari TUHAN, yang diajarkan oleh agama-agama. Jadi, manusia beragama agar TUHAN memberi kekuatan serta kemampuan untuk menjalani hidup dan kehidupan
  2. Ketidakmampuan menghadapi pelbagai rintangan hidup dan kehidupan setiap hari. Biasanya sikon seperti itu membuat manusia menjadikan agama sebagai tempat pelarian terakhir. Hal itu terjadi dengan harapan bahwa TUHAN yang diajarkan dalam agama-agama mampu memberikan kemampuan kepadanya agar bisa menghadapi rintangan hidup dan kehidupannya.

  3. Keinginan yang tidak tercapai serta ketidakpastian karena adanya perubahan sikon hidup dan kehidupan. Merasa tidak mempunyai kepastian masa depan karena tak mampu mengikuti perubahan, sehingga mengalami stagnasi berpikir, kemudian melarikan diri kepada hal-hal rohaniah.

  4. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi, misalnya keterbelakangan; kebodohan; kemiskinan; penderitaan; dan lain-lain.

  5. Di samping semua hal tersebut, ada orang yang menjadi pemeluk atau umat salah satu agama dengan alasan-alasan khas, misalnya

  •  memperoleh kepastian keselamatan; dengan menjalankan ajaran-ajaran agama, seseorang [menjadi penganut agama] agar memperoleh kepastian masa depan hidup kekal setelah kematian 

  • mengingatkan diri sendiri bahwa ada TUHAN yang menciptakan serta mengatur segala sesuatu termasuk hidup dan kehidupan; sehingga dirinya menyembah-Nya dengan benar serta mengikuti semua kehendak-Nya

  • ajaran-ajaran agama sebagai pagar pembatas agar tidak jatuh serta terjerumus ke dalam cara-cara hidup yang buruk serta negatif; menjadikan diri sendiri sadar sekaligus takut untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum-hukum masyarakat

  • memberi pengaruh positif pada hidup dan kehidupan secara pribadi dan anggota masyarakat; serta ikut ambil bagian dalam pembangunan serta perbaikan masyarakat melalui berbagai bidang hidup dan kehidupan

  • ajaran agama menjadikan manusia mempunyai sikap moral dan etika yang baik, sehingga mampu membangun relasi antar sesama dengan penuh tanggungjawab, mendorong seseorang untuk berbuat kebajikan, membantu, menolong, memperhatikan sesama manusia berdasarkan kasih

  • memberi dorongan kepada dirinya sehingga berani berjuang menegakkan keadilan, kebenaran, demokrasi, toleransi, kerukunan, serta hak asasi manusia, termasuk memelihara serta menata lingkungan hidup

        Jadi, ketika seseorang mengikatkan diri pada agama tertentu atau menjadi umat beragama, tersirat dari dalam dirnya, bahwa ia harus mendapat keuntungan dari tindakannya itu. Ini berarti, agama harus membawa perbaikan dan perubahan total pada manusia. Agama berperan untuk perubahan manusia; sebaliknya manusia pun dapat berubah karena adanya agama. Oleh sebab itu, ada beberapa peran yang bisa dilakukan agama [bukan berarti agama adalah pribadi yang bisa melakukan sesuatu; melainkan peran institusi agama atau umat beragama, terutama mereka yang berperan sebagai pemimpin-pemimpin keagamaan].