SINISME TERHADAP AGAMA
OLEH
JAPPY PELLOKILA
Sinisme, berasal dari kata sinis [mengejek dan memandang rendah], merupakan pandangan atau pernyataan sikap [pemikiran, kata, dan tindakan] yang mengejek dan memandang rendah atau enteng terhadap sesuatu. Sinisme juga merupakan ketidakseimbangan pandangan; dalam arti hanya melihat sisi negatifnya saja, dan membuang hal-hal postif. Jadi, pandangan sinis terhadap agama, menunjukkan suatu konsep pikir, melalui ketidakseimbangan pandangan, yang merendahkan nilai-nilai keilahian yang ada pada agama dan keberagamaan.
Sepanjang atau dalam sejarah peradaban umat manusia, muncul atau ditemukan banyak orang yang berpendapat tentang ketidakpentingnya agama [termasuk ajaran tentang adanya TUHAN dalam agama-agama]. Misalnya,
Karl Marx, 1818 - 1883; menurut Marx, perkembangan dan modernisasi telah memilah dan memisahkan masyarakat menjadi berbagai strata sosial; antara lain masyarakat maju, kaya, sejahtera, serta sengsara dan menderita. Pemilahan dan pemisahan itu dilakukan oleh para orang kaya dan berpendidikan, yang awalnya dalam rangka perbaikan masyarakat. Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya, pemilahan dan pemisahan itu, menjadi pintu masuk tindakan sewenang-wenang dan penindasan terhadap kaum miskin serta papa; dengan demikian, mereka tetap sengsara dan menderita. Melihat realitas tersebut, menurut Marx, kesengsaraan dan penderitaan, menjadikan manusia selalu berkeluh kesah dan memohon atau berisi permohonan belas kasihan. Dan keadaan itulah, mereka melarikan diri dari realitas hidup dan kehidupan dengan menciptakan atau memunculkan agama [dalam arti tindakan-tindakan yang bersifat doa-doa, nyanyian, teks-teks yang berisi penghiburan, dan lain-lain]. Ketika manusia melakukan hal-hal tersebut, ia sejenak melupakan penderitaan dan kesengsaraanya. Tetapi, setelah itu, ia tetap pada keadaannya yaitu menderita dan sengsara. Jadi, agama adalah suatu bentuk permohonan dari makhluk yang penuh sengsara dan penderitaan. Agama merupakan roh yang tidak berjiwa; tidak mempunyai kekuatan apapun untuk merubah keadaan manusia.
Bagi Marx, agama adalah opium atau candu dalam dan untuk masyarakat; [sebagaimana sifat candu menjadikan orang atau pemakainya lupa pada penderitaan dengan adanya realitas semu atau impian pada saat kecanduan; mengikat dan membuat ketergantungan, kemudian merusak kehidupan], maka agama hanya membuat manusia terikat pada sesuatu yang tidak realita; menjadikan mereka bermimpi; serta mempunyai harapan pada ketiadaan dan kehampaan; semuanya menghancurkan hidup dan kehidupan manusia. Karena itu, jika manusia atau masyarakat ingin memperoleh kebahagiaan, kesejahteraan, kesetaraan, kebersamaan, maka ia atau mereka harus menghancurkan agama.
Ludwig Feurbach, tokoh atheis modern, 1804 - 1883; Menurutnya, ide tentang TUHAN pada hidup dan sejarah manusia merupakan suatu kekeliruan. Kodrat manusia ditentukan oleh akal budi, perasaan, dan kehendak; ketiga hal itu merupakan perkembangan alam. Menurut Feurbach, agama mengajarkan manusia memisahkan dirinya dari alam. Oleh sebab itu, untuk kembali pada jatidirinya sebagai makhluk alam, maka manusia harus membuang ide tentang TUHAN
Friedrich Nietze, 1884 - 1900; Menurut Nietze, manusia percaya kepada atau adanya TUHAN karena dirinya [mereka] mempunyai perasaan tidak mampu; atau karena ketidakmampuan dan kekurangan [kemiskinan] maka manusia percaya adanya TUHAN. Agama muncul pada sejarah masa lalu umat manusia, ketika peradabannya masih terbelakang atau belum maju; pada sikon itu hampir semua umat manusia percaya adanya TUHAN. Tetapi, ketika ada kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan, yang menghantar manusia pada kebebasan intelektual, kemerdekaan berpendapat, serta mempunyai kemampuan; maka manusia harus melepaskan dirinya atau membuang keterikatannya dengan agama.
Menurut Nietze, agama mengajarkan ide tentang TUHAN, padahal keberadaan-Nya tak nampak atau tidak ada; Ia adalah kehampaan, kosong. Karena itu, manusia harus mematikan ide adanya agama; sekaligus memancarkan kematian TUHAN dari dalam hidup dan kehidupannya, dan selanjutnya [manusia] harus membuang norma-norma moral yang diajarkan atau datang dari agama-agama
Pandangan-pandangan sinis terhadap agama tersebut, memang merupakan produk masa lalu, pada perkembangan sejarah intelektual manusia, namun dampaknya masih terasa sampai kini. Ide-ide tentang kematian dan ketiadaan TUHAN; ketidakbergunaan agama-agama; dan penolakkan terhadap agama-agama terus menerus merambah masuk ke dalam pola pikir manusia masa kini. Pengagungan terhadap hasil akal budi dan perkembangan iptek, seringkali menjadikan manusia ingin membuktikan segala sesuatu secara ilmiah. Dan ketika, ia atau mereka berhadapan dengan sesuatu yang hanya bersifat gejala-gejala [misalnya kehadiran TUHAN yang tak nampak, namun terasa gejala-gejala atau akibat kehadiran-Nya], yang tidak bisa dibuktikan secara konkrit, maka disamakan dengan ketiadaan bukti ilmiah. Karena tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, maka ia atau mereka menolak keberadaan agama dan TUHAN, walaupun identitas keagamaan masih melekat pada dirinya.
Orang-orang seperti Marx, Feurbach, dan Nietze, dan masih banyak lagi yang lain, ketika mendapat tantangan [terutama dari tokoh-tokoh dan pemimpin agama] karena pendapat dan konsep-konsepnya, dengan gampang menjawab bahwa jika TUHAN itu ada, biarlah Ia yang menghukum. Dengan demikian, mereka tetap bebas menyampaikan ide-idenya. Ide-ide mereka tidak pernah mati dan lenyap. Dan kenyataannya, karena TUHAN penuh dengan kasih dan pengampunan, maka orang-orang yang menolak keberadaan-Nya, tidak pernah mengalami malapetaka ataupun dilenyapkan dari muka Bumi; mereka tetap eksis, walaupun tidak peduli dengan Agama maupun TUHAN. Dengan demikian, mereka telah meninggalkan atau mewariskan virus dan racun mematikan pada hidup dan kehidupan manusia selanjutnya. Setelah era atau masa mereka, banyak orang masih mempertahankan atau mengikuti konsep dan pemikiran sinisme tersebut.
Pada masa kini, termasuk di Indonesia, tidak sedikit kaum muda, orang tua, mereka yang berpendidikan maupun tidak, walaupun tak secara terang-terangan, mengikuti pemikiran Marx, Feurbach, dan Nietze; tetapi mampu membangun konsep-konsep baru yang lebih dasyat tentang penolakkan terhadap agama-agama dan TUHAN. Dengan demikian, Marx, Feurbach, dan Nietze, walaupun telah lama meninggal, tetap melahirkan anak-anak dan murid-murid ideologis pada sepanjang sejarah umat manusia. Ajaran-ajaran mereka menjadi suatu pegangan ataupun ideologi alternatif, ketika agama-agama tidak bisa [siap] menjawab persoalan dan serta memberi jalan keluar dari pergumulan hidup dan kehidupan umat manusia.